Kam. Agu 22nd, 2019

XTREMPOINT

Detik-Detik Yang Berarti

Transaksi Nontunai Di ASDP Tidak Efektif

2 min read
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kalau sebelumnya untuk menyebarang dari Pelabuhan Ketapang ke Gilimanuk penumpang kapal dapat membeli tiket dengan cara tunai, sekarang peraturanya berbeda. Penumpang kapal diharuskan membeli tiket demgan transakai non tunai layaknya E Tol.

Pada beberapa hari lalu, Rabu 10 Juli 2019 saya berangkat dari surabaya menuju Bali degan menggunakan kereta api via Stasiun Gubeng, Surabaya – ke Stasiun Banyuwangi Baru.

Turun dari kereta saya langsung menuju pelabuhan Ketapang untuk naik kapal Fery. Sewaktu akan membeli tiket kapal secara tunai, saya diarahkan oleh pegawai loket untuk membuat kartu seperti halnya E Tol. Sebab saat ini pihak ASDP tidak lagi menerima pembelian tiket secara tunai.

Saya kemudian menuju tempat dimana harus membuat kartu E-Kapal, disitu saya ditawari kartu merk Brizzi dengan harga Rp. 50 ribu yang didalamnya sudah tersedia saldo sebesar Rp. 10 ribu.

Secara hitung-hitungan ekonomi saya emang rugi, beli Rp. 50 ribu tapi hanya isi saldo Rp. 10 ribu. Apa lagi harga tiket kapal hanya Rp. 6.500 rupiah, berarti ada uang saya yang mengendap sebesar Rp. 3.500 rupiah.

Uang ini tidak dapat dicairkan dia akan mengendap selama tidak digunakan untuk keperluan transaksi, seperti halnya beli tiket kapal atau bayar e tol.

Sekembalinya dari Bali, saya harus mengisi kembali saldo karena saldo awal tidak mencukupi untuk membeli tiket kapal. Terpaksa saya isi kembali saldo Rp. 20 ribu rupiah.

Kini saldo saya yang mengendap setelah ditransaksikan Rp. 17.000 rupiah.

Ada yang menarik saat saya mengisi saldo, kebetulan saat itu ada orang seseoarang yang juga hendak menyebrang dengan saya ke pelabuhan ketapang.

Pria ini mengaku hanya memiliki uang 250 ribu rupiah. Padahal tujuan utamanaya adalah ke Surabaya. Kalau digunakan untuk beli kartu Brizzi sebesar Rp. 50 ribu uangnya tinggal Rp. 200 ribu. Sedangkan untuk tiket kereta dari Banyuwangi Baru ke stasiun gubeng Surabaya harganya Rp. 190.ribu.

“Biasanya harga tiket kapal kan cuma Rp. 6.500 rupiah [tunai]. Sekarang sama dengan Rp. 50 ribu”kata Galih, penumpang kapal asal surabaya itu.

Dia mengatakan tidak mungkin naik kereta api karena uangnya pasti pas pasan. Alternatifnya dia bakal naik Bus dari terminal Banyuwangi ke terminal Bungurasih, Surabaya.

“Sekarang susah kalau uang pas pasan, aturan baru ini bikin orang tambah susah”kata dia.

Saya kemudian menawari dia agar tiket kapal saya yang bayar. Dia nanti bisa ganti tunai pada saya.

Mendapat tawaran saya dia kelihatan sumringah. Dan bilang “siap” akan ganti dengan tunai.

Didalam kapal saya merenung, kalau misalnya Galih tadi hanya punya uang Rp. 200 ribu mungkin dia bakal mengurungkan niat untuk pulang ke surabaya.

Saya juga berpikir, aturan baru itu benar -benar efektif atau cuma sekedar aturan yang hanya menguntungkan sebagian pihak. Yang jelas tidak ada keuntungan apapun bagi maayarakat dengan aturan ini. Sedangkan kerugian sudah nampak didepan mata. @


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Pilihan Pembaca