Tembakau Srintil Termahal Didunia

Tembakau Srintil Termahal Didunia

04/06/2019 0 By xtrempoint
Share:

XTREMPOINT – Tembakau srintil, merupakan salah satu jenis tembakau yang dinilai memiliki kualitas tinggi. Jenis tembakau ini populer di daerah Temanggung, Jawa Tengah. Cerita dari masyarakat lokal, tembakau Srintil hanya muncul didaerah lahan pertanian yang penuh mistik dan penuh kearifan lokal.

Menurut informasi, Kualitas srintil terbaik berada di daerah Lamuk Legok dan Dampit Losari lereng gunung sumbing dan daerah Kwadungan, daerah Bansari lereng gunung sindoro Kabupaten Temanggung.

Tembakau Srintil sering muncul dilahan persawahan disekitar temanggung saat musim kemarau, Namun tetap kualitasnya masih di bawah tembakau srintil asal daerah pegunungan Sumbing dan Sindoro.

Tembakau Srintil misalnya, pada tahun 2018 harganya mencapai Rp. 1.000.000 juta per Kilo gram. Dimana harga tembakau perkilo rata-rata hanya dikisaran Rp. 100.000.

Masyarakat didaerah temanggung menilai, Srintil yang berasal dari lereng gunung sumbing kualitasnya lebih bagus dari pada yang berada didaerah lain seperti di Sindoro, cerita magis juga mempengaruhi harga penjualan.

Faktanya, sampai saat ini tembakau kuwalitas terbaik dan termahal di dunia adalah tembakau srintil, dan hanya ada di Indonesia. Berkat kearifan lokal yang tidak bisa di tiru di daerah lain bahkan di dunia. Hal itu bisa dibuktikan, umpama sama varietas kemloko ditanam di daerah lain bahkan di negara lain, tidak akan bisa menghasilkan kualitas tembakau menyerupai bahkan melebihi kuwalitas srintil.

Harga srintil sangat ditentukan dari kualitas daun tembakaunya. Semakin banyak kadar nikotinnya, maka semakin mahal harganya. Nikotin secara sederhana adalah bahan yang mengandung perangsang kelompok alkaloid yang juga terdapat pada tumbuhan famili solanaceae yaitu tomato, terong ungu (eggplant), jenis sayur sayuran seperti kembang kol, dan kentang.

Keberadaan tembakau srintil tidak terlepas dari cerita yang melegenda di kalangan masyarakat Temanggung. Sebagian masyarakat masih meyakini bahwa tanaman tembakau daunnya bisa menghasilkan srintil karena sebelum masa panen tiba, di atas lahan pertaniannya dilalui jalur sinar yang diyakini dari langit (Tuhan).

Seperti cerita Sugito, seorang petani asal Tlogomulyo yang mempunyai lahan di lereng Sumbing dan sering menghasilkan srintil, bahwa ia sering melihat di atas lahannya sinar yang memancar dengan cepat, itulah yang dinamakan sinar wahyu atau bagi masyarakat Temanggung menamai dengan sebutan “rigen”. Saat lahan tembakau di lalui jalur sinar tersebut, dipastikan hasil daun tembakaunya berkualitas selama jenis yang ditanam asli Temanggung (kemloko). Sebaliknya jika tidak ada sinar, biasanya hasil panen tembakaunya jelek.

Singkat cerita, rigen atau sinar yang memancar, mitosnya berasal dari lemparan kinjeng emas (capung emas) yang dilakukan Sunan Kudus disaat mendapatkan laporan dari Ki Ageng Makukuhan (sunan Kedu) bahwa tanaman tembakau yang telah dititipkan Sunan Kudus untuk ditanam di Temanggung tidak menghasilkan bagi masyarakat. Kemudian Sunan Kudus melempar capung emas, lokasi jatuhnya capung emas, disitulah tempat yang cocok untuk tanaman tembakau. Ternyata capung emas jatuh di daerah gunung sumbing.

Untuk membedakan, tembakau jenis srintil dapat dilihat saat disimpan, ia akan mengeluarkan bau menyengat seperti busuk berwarna kuning, diakibatkan kadar nikotinnya begitu banyak. Kalau dijemur memerlukan waktu 4-5 hari baru bisa kering. Beda dengan tembakau temanggung pada umumnya, baunya tidak begitu menyengat dan hanya butuh 1-3 hari untuk pengeringan.


Share: