Jum. Agu 23rd, 2019

XTREMPOINT

Detik-Detik Yang Berarti

Simbol Sedulur Papat Limo Pancer Dalam Pewayangan

2 min read
Oleh: Pradipta J

Gunungan Wayang Kulit

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Arti makna Sedulur Papar Limo Pancer

Sebuah prototipe berupa gambar Gunungan dalam wayang kulit Purwa memiliki arti mendalam terkait kepercayaan masyarakat Jawa. Didalamnya terdapat gambar berupa Harimau, Banteng, Monyet dan Burung Merak.

Ahli sastra Jawa menyebut empat gambar hewan pada gunungan wayang kulit itu memilki arti yang disebut sebagai “Sedulur Papar Limo Pancer” suatu pandangan filosofis bahwa manusia itu selalu di ikuti oleh 4 saudara ghaib hingga akhir hayatnya.

Digambarkan Keempat binatang mewakili empat nafsu, yakni Harimau mewakili gambaran kemarahan (Nafsu Amarah), Banteng mewakili supremasi (Nafsu Sufiyah) Monyet mewakili nafsu (Lauwamah), dan Merak mewakili nafsu ketenangan atau (Mutmainah).

Sejatinya semua sifat itu telah ada pada diri manusia sejak ia dilahirkan, hilang salah satu Nafsu itu, kondisi kejiwaan manusia itu dipastikan terganggu.

Empat nafsu itu adalah keseimbangan dalam hidup dan merupakan anugerah besar dari Tuhan. Empat nafsu itu juga perlu dilakukan pengendalian.

Marah itu diperlukan dalam hidup untuk membela hal-hal yang Haq dan melawan hal yang batil, akan tetapi Jika manusia mengikuti kemarahan, tentu akan menghancurkan raganya sendiri, manusia harus bisa toleran terhadap kesabaran, jadi kesabaran adalah alat untuk mengabdikan diri kepada darma dan ketaatan.

Sufiyah diartikan keindahan atau Kecantikan, setiap manusia pasti senang dengan keindahan, ksenangan batin yang terlihat oleh indera, antara lain, tempat tinggal, aset, dan lain sebagainya yang diinginkan oleh raga. Keinginan bathin juga masuk dalam kategori nafsu ini, hubungan seksual, beribadah dan lainnya sebagainya yang hanya bisa dirasakan batin.

Beribadah tapi hanya untuk pamer bukan pada niat yang sesungguhnya adalah contoh over dari Nafsu Sufiyah ini, hal yang dilakukan berlebihan tanpa tuntunan pada nafsu ini digambarkan dapat menghancurkan dunia.

Aluamah atau nafsu Serakah, Manusia umumnya memiliki rasa keserakahan dan harga diri, jadi jika tidak dapat dikendalikan, manusia seolah merasa dapat hidup hingga tujuh generasi atau bahkan merasa kekal.

Nafsu Mutmainah (Liability), Meskipun merupakan kebaikan atau kebajikan, tetapi jika melampaui batas hal itu dikategorikan hal buruk.

Misalnya, memberikan uang kepada orang miskin adalah hal yang baik, tetapi ketika didalam uang itu ada hak dan kewajiban seseorang, maka hal itu tidak dapat dibenarkan.

Beribadah itu baik, tapi apabila dalam beribadah itu ia terhanyut melupakan hak dan kewajiban dia yang utama, maka ibadahnya adalah ibadah yang sia-sia. “Didalam hak dan kewajiban itu juga terdapat nilai ibadah”.

Keempat saudara kita harus dilindungi dari keinginan liar tak terkendali, “mereka adalah diri kita sendiri”. Mereka seyogyanya diperintah untuk menghindari konflik dengan “pancer” atau diri kita yang sejati.


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Pilihan Pembaca