Jum. Agu 23rd, 2019

XTREMPOINT

Detik-Detik Yang Berarti

Membuka Sosok Sabdo Palon Noyo Genggong

3 min read
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sabdo Palon dan Noyo Genggong, dua sosok ini dianggap sebagai pandita dan penasehat Brawijaya V, penguasa terakhir Majapahit. Sebagian lagi berpendapat dua orang tersebut merupakan cerita fiksi penuh hikmah pengajaran yang dikarang oleh R. Ng. Ranggawarsita, yang menyamarkan namanya menjadi Ki kalam Wedi.

Serat Darmo Gandul menyebut nama Sabdapalon, yang berarti Sabda, artinya kata-kata, sedangkan Palon adalah kayu pengancing kandang. Kemudian Naya artinya pandangan, terakhir Genggong artinya langgeng tidak berubah.

Sabda secara umum diartikan perkatan suci yang hanya dapat disampaikan oleh Nabi, Rasul atau Tuhan. Jika diartikan, Sabdopalon Noyo Genggong bukanlah perwujudan nama melainkan perkatan suci yang digunakan sebagai kancing atau pengunci (pandangan) pemikiran yang bersifat kekal (pandangan hidup). Jika dikerucutkan lagi, yang disebut Sabdopalon Noyo Genggong adalah ajaran Wahyu atau agama.

Sabdapalon berkata bahwa dirinya akan memisahkan diri dengan Brawijaya V yang saat itu telah menginjak masa renta  dan baru memeluk agama Islam atas arahan Kali Jaga. Ketika ditanya perginya akan ke mana? Ia menjawab tidak pergi, tetapi tidak berada di situ, hanya menepati yang namanya Semar, artinya meliputi sekalian wujud, anglela kalingan padang.

Yang dimaksud “meliputi sekalian wujud” adalah kata kata ma’rifat tentang sifat ketuhanan. Ini adalah kata kiasan menggambarkan sifat dan bukan perwujudan Sabdopalon.

Kedatangan Sabdopalon Noyogenggong disebut sebut sebagai masa kehancuran pulau Jawa. Kadang disebut dengan “Sabdo Palon nagih jaanji.”

Serat Darmo Gandul menyebut, Sanget-sangeting sangsara, Kang tumuwuh tanah Jawi, Sinengkalan taunira, Lawang Sapta Ngesthi Aji, Upami nabrang kali, Prapteng tengah-tengahipun, Kaline banjir bandang, Jerone nyilepake jalmi, Kathah sirna manungsa kathah pralaya.

Artinya, Sangat-sangatnya sengsara yang timbul di Tanah Jawa, ditandai pada tahun Sembilan Tujuh Delapan Satu (9781). Seumpama menyeberang sungai, sampai di tengah-tengahnya, sungainya banjir bandang. Dalamnya menenggelamkan manusia. Banyak manusia mati, banyak bencana.

Serat Darmo Gandul sendiri banyak perkatan tendensius apriori akan  sebuah ajaran tertentu dan mendiskreditkan ajaran lainnnya. Serat ini dinilai banyak gubahan yang diperuntukkan kepentingan politik pada jamannya.

Kemudian Sabdopalon berkata dalam serat Darmo Gandul, “Hamba ini Ratu Dhang Hyang yang menjaga tanah Jawa. Siapa yang bertahta, menjadi asuhan hamba. Mulai dari leluhur paduka dahulu, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang Sakri, turun temurun sampai sekarang, hamba mengasuh keturunan raja-raja Jawa,—-
—, sampai sekarang ini usia hamba sudah 2.000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja Jawa, tidak ada yang berubah agamanya,

Sabdopalon mengklaim berusia 2003 tahun dan mengaku menjadi Dhang Hyang (Danyang) Kerajaan Majapahit, dan tak berubah agamanya dari era sebelumnya.

Sedangkan pada masa Sekutrem hanya ada dan ditemukan  pada kisah pewayangan.

Serat Darmo Gandul seolah mengetahui kejadian pada era Majapahit bahkan era sebelumya. Padahal, Serat Darmagandul baru ditulis pada 16 Desember 1900 M. Sebagian ahli berpendapat, serat Darmo Gandul asli milik Ronggowarsito telah digubah oleh penguasa Belanda.

Hasil tulisan dua orang akademisi dan orientalis Belanda yaitu G. W. J. Drewes dan Philip van Akkeren. Hal ini dapat dilihat dari isi Serat Darmagandul, salah satunya ditemukan kalimat sebagai berikut:

Lamun seneng bukti, woh wit kadjeng kawruh, Anyebuta asmane Djeng Nabi, Isa kang kinaot, mituruta Gusti agamane.

Artinya, Jika suka dengan bukti, buah pohon kayu pengetahuan, (Maka) sebutlah nama beliau Nabi Isa yang termuat, turutilah agamanya,)

Agama Nabi Isa adalah agama Samawi, seperti halnya yang tertulis dalam kitab Al Qur’an.

Perlu diketahui bahwa cerita Sabda Palon dalam Serat Darmagandul tersebut telah mengambil ide cerita sepenuhnya dari Serat Babad Kadhiri yang ditulis pada 1832 M. Namun demikian, terkait dengan “kutukan” bernuansa ramalan dari Sabda Palon bahwa agama Kawruh akan menggantikan ajaran Islam merupakan inisiatif dan tambahan dari penulis Darmagandul sendiri.

Terdapat kontradiktif kata bahwa Sabdopalon akan datang kembali membawa agamama lama yakni agama Budi

“Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budi lagi (maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa.”

Masa Majapahit sendiri ditafsirkan berakhir pada 1521-1522. 

Penggubah serat Darmo Gandul diduga lebih dari satu orang dengan berbagai macam versi dan kembangan. Salah satunya penganut ajaran “Dharma Yatra” ajaran yang diajarkan oleh Danghyang Nirartha, seorang pendeta Budha yang kemudian beralih menjadi pendeta Syiwa. Dia juga diberi nama Mpu Dwijendra dan dijuluki Pedanda Sakti Wawu Rawuh. Beliau juga dikenal sebagai seorang sastrawan.@ [Dem].


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Pilihan Pembaca