Kematian Akbar Alamsyah, Hanya Pengecut Yang Tidak Berani Akui Perbuatannya

Kematian Akbar Alamsyah, Hanya Pengecut Yang Tidak Berani Akui Perbuatannya

13/10/2019 0 By Redaktur: Junaedi S
Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

 

“Kepalanya besar seperti pakai helm dan seperti ada tumor.” Sekitar wajahnya juga lebam, “bibir jontor sampai menutupi lubang hidung.”laporan tirto.id.

Fitri Rahmayani, kakak kandung Akbar menjelaskan, Ketika diajak bicara ia tidak bisa merespon dengan baik. Dia hanya bisa menggerakkan jari tangan dengan pelan ketika diajak bicara.

Pemuda belasan tahun itu menurut Fitri tidak memiliki riwayat penyakit berat, akan tetapi korban harus dilakukan pencucian darah layaknya penderita gagal ginjal.

“Akbar itu enggak punya penyakit apa-apa, tapi tiba-tiba cuci darah. Ada infeksi saluran kandung kemih,” ungkap Fitri.

Selama 15 hari Akbar kritis, dia kemudian meregang nyawa dengan tubuh penuh luka mengerikan, Akbar dinyatakan meninggal di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat pada Kamis (10/10/2019) sore.

Ironis, Akbar ternyata sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi ketika masih dalam perawatan intensif di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, Jakarta Pusat, (30/9/2019).

Argo Yuwono/net

Padahal, Polisi mengklaim menemukan Akbar tergeletak di trotoar “Jam 01.30 (26 September) ada anggota (bernama) AKP Rango yang bertugas di (Polres) Jakarta Barat menemukan seorang laki-laki (Akbar Alamsyah) tergeletak di trotoar,” kata Argo, Kabidhumas Polda Metro Jaya.

Tidak ada kata-kata Akbar merupakan perusuh kala itu, Argo menyatakan Akbar ditolong polisi dan diobati. “Polres Jakarta Barat memberikan pertolongan kepada laki-laki yang diketahui bernama Akbar Alamsyah. Kami lakukan perawatan, kami obati,” ujar Argo, Kompas.com.

Disisi lain, polisi mengklaim Akbar mengalami luka karena terjatuh dari pagar DPR-RI Saat terjadi kerusuhan.

Berubah ubahnya keterangan polisi memantik kecurigaan, bahwa “Akbar telah disiksa” oleh pengecut yang tidak berani mengakui perbuatannya.

Dugaan penyiksaan makin kuat setelah beberapa orang tua korban lain juga mendapati anak-anaknya mengalami luka mengerikan.

Orang tua Andika (16 tahun) mengaku tidak dapat mengenali anaknya.

Andika ditahan di bawah wewenang Subdirektorat Reserse Brigade Mobil Polda Metro dalam satu ruangan bersama orang-orang dewasa atas tusuhan sebagai “perusuh”. “Hidungnya berdarah. Di kepalanya, darahnya ngucur.” kata Nana, ibu Andika kepada [email protected] [Red].

0Shares