KARMA..!!

KARMA..!!

09/09/2019 0 By xtrempoint
Share:

Namaste…Bung Jeffry MD. Aku salut dengan anda karna aku ikuti terus kolom rubik konsultasi di media online ini jawaban anda selalu mengandung nilai-nilai pengetahuan yang luas dan baru aku pahami ternyata rubik Mistik ini bukan rubik klenik namun tentang hal yang misteri dan pengetahuan. Begitu juga pengasuhnya ternyata bukan Dukun maaf selama ini paradigma saya keliru.

Bung Jeffry, aku mohon penjabaran tentang Karma bagaimana menurut disiplin keilmuan yang Bung dapat selama ini, aku yakin Bung piawai dalam menganalisis terima kasih atas perhatiannya..

Julius antasari, kaltim

Jawab: Namaste wow kok salamnya pakai bahasa hindi. Oke saudara julius langsung saya beri penjabaran atas pertanyaan anda..Dalam pandangan berbagai kalangan keyakinan dan ajaran agama tentunya masing-masing memiliki pemahaman berbeda dan disini semua kembali saya serahkan pada anda atau pembaca yang mengikuti keyakinan dan agama mana yang dianut.

Hukum karma adalah salah satu ajaran yang penting dalam agama Buddha. … Umat Buddha memandang hukum karma sebagai hukum kosmis tentang sebab dan akibat yang juga merupakan hukum moral (Kitab Hukum Karma) yang impersonal.

Menurut hukum ini sesuatu (yang hidup maupun yang tidak hidup) yang muncul pasti ada sebabnya.

Hukum sebab-akibat, ada aksi dan ada reaksi. Jika berbuat baik, maka akan mendapat balasan baik, jika berbuat buruk maka akan mendapatkan balasan buruk juga.

Menebak hal ghaib, semisal menebak bahwa engkau mendapatkan hal buruk ini karena perbuatan burukmu yang itu (disebutkan perbuatannya)

Adabya keyakinanan rienkarnasi kembali ke dunia setelah kematian, sebagai akibat perbuatannya yang lalu pada kehidupan sebelumnya Bahkan ada pendapat seperti ini mengenai hukum karma:

“Dhamma Niyama Hukum Karma tidak membutuhkan kepercayaan Anda.. siapa pun Buddha, Nabi, Setan, Manusia, Binatang, Tumbuhan dan semua keberadaan di Seluruh Semesta ini termasuk TUHAN tunduk pada HUKUM DHAMMA NIYAMA”

Sejujurnya saya tidak tahu pasti apa itu hukum karma, terlepas dari apakah benar pengertian yang saya kumpulkan dari berbebagai sumber, saya ingin menjelaskan bahwa agama Islam tidak membenarkan ajaran karma dengan pengertian di atas. Dalam Al-Muasu’ah Al-Muyassarah dijelaskan, “Karma menurut ajaran hindu adalah “hukum balasan” yaitu aturan ilahi yang berdasarkan keadilan murni.

“Keadilan ini terjadi bisa jadi pada kehidupan saat ini atau di kehidupan yang akan datang. Balasan kehidupan ini akan terjadi pada kehidupan selanjutnya. Bumi adalah tempat ujian sebagaimana juga sebagai tempat balasan kebaikan dan keburukan.”

Pandangan Islam mengenai ajaran karma

Pertama: Tidak dibenarkan jika memastikan hukum sebab akibat dengan sebab yang pasti atau tertentu

Misalnya: engkau sakit parah sekarang ini karena dahulu engkau sering mencuri, sekarang engkau kena hukum karma.

Hal ini termasuk menebak hal-hal ghaib, karena “Darimana ia tahu bahwa penyebab sakit parah adalah karena dosa mencuri? Bukankah ada dosa-dosa lainnya yang tersembunyi bahkan lebih besar”

Bisa jadi sakit parah tersebut karena ujian dari Allah atau dosa lainnya yang pernah ia berbuat tanpa diketahui orang lain sama sekali. Atau bisa jadi sakit parah karena dosanya berupa keyakinan dan aqidah dalam hati yang salah mengenai agama dan ajaran Islam.

Menebak hal ghaib termasuk dosa kesyirikan yang besar.

Allah berfirman,“Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah” (An-Naml: 65).Bahkan apabila kita percaya dengan tebakan hal ghaib maka ini termasuk kekufuran.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.

Tidak boleh juga menebak hal ghaib meskipun hanya bercanda dan bermain-main. Bermain-main menebak karma juga tidak boleh, karena mendatangi tukang ramal saja ada ancamannya, baik kita membenarkan atau tidak membenarkan.

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal dan bertanya padanya tentang sesuatu, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.

Kedua: Tidak dibenarkan ajaran reinkarnasi
Dalam ajaran Islam tidak ada ajaran reinkarnasi. Manusia apabila telah meninggal, maka ia tidak akan kembali ke kehidupan dunia lagi akan tetapi akan mempertanggungjawabkannya di akhirat dan kemudian hidup selamanya di kehidupan akhirat.

Begitu banyak nash yang menjelaskan hal ini. Allah berfirman, “Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit” (At-Taubah:38).

Allah juga berfirman:

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) lebih memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” (Al-A’la: 16-17), Demikian semoga bermanfaat


Rubrik Konsultasi Mistik (Mystery dan Science) ini diasuh oleh Bung Jeffry MD, pengelola sanggar olah spiritual“Kala Cakra” Jl. Pakis G.III No. 4 Surabaya.open house setiap hari

Telp: 087782806919 (WA).

Setiap pertanyaan akan diterbitkan dihalaman xtrempoint


Share: