Gunung Kawi, Mitos Sejarah Dan Seluk Beluk Didalamnya

Gunung Kawi, Mitos Sejarah Dan Seluk Beluk Didalamnya

09/07/2019 0 By Redaktur: Junaedi S
Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

XTREMPOINT.COM – Pesarean Gunung Kawi terletak di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, atau berada di lereng selatan Gunung Kawi. Dari kota Malang sekitar 38 km, bisa ditempuh selama 1-1,5 jam perjalanan menggunakan kendaraan. Selain menggunakan kendaraan pribadi, angkutan umum telah tersedia hingga lokasi. Jadi jalur menuju pesarean Gunung Kawi atau biasa dikenal juga sebagai pesarean mbah Djoego sangat mudah dijangkau.

Suasana Pesarean Gunung Kawi

Pesarean mbah Djoego,
berada di lereng Gunung Kawi

Letak Pesarean Gunung Kawi berada di lereng gunung Kawi, pada ketinggian 800 mdpl, menjadikannya dilingkupi hawa sejuk dan udara yang bersih. Alam sekitar pesarean juga masih banyak ditumbuhi pohon-pohon besar dan rindang, menambah keasrian tempat ini.

Berderet warung makanan dan pedagang buah

Pesarean Gunung Kawi tidak nampak angker seperti makam pada umumnya, sekitar pemakaman dikelilingi rumah penduduk layaknya kota kecil diatas gunung. Segala macam kebutuhan mudah didapatkan di tempat ini, untuk menginap tersedia rumah penginapan biasa hingga hotel, sedangkan untuk kebutuhan perut banyak dijajakan makanan dari pedagang kaki lima hingga restoran juga ada.

Pesarean Gunung Kawi memiliki daya pikat yang luar biasa bagi penikmat wisata religi di nusantara. Bahkan menurut catatan buku tamu, pengunjung berasal dari berbagai negara dan tidak terbatas pada penganut agama tertentu. Jika melihat lokasi memang nampak tersedia beberapa tempat ibadah yang disediakann tidak hanya untuk orang Islam, meskipun sejatinya yang di kubur di pesarean ini adalah orang Islam.

Sejarah Pesarean Gunung Kawi

Pesarean Gunung kawi merupakan tempat dimakamkannya dua jenazah berjajar dalam satu liang lahat. Jenazah pertama adalah Kanjeng Kyai Zakaria II atau lebih dikenal dengan sebutan mbah Djoego, seorang ulama terkenal dari keraton Mataram Surakarta, beliau meninggal pada tanggal 22 Januari 1871 M. Kedua adalah jenazah Raden Mas Iman Soedjono, seorang bangsawan yang menjadi senopati/panglima perang dari Keraton Yogyakarta, beliau meninggal pada tanggal 8 Februari 1876 M.

Peziarah Pesarean Gunung Kawi

Pengunjung atau peziarah pesarean gunung Kawi selalu ada setiap harinya dan melonjak hingga ribuan orang pada hari-hari tertentu. Terutama pada hari jumat legi yang merupakan hari dimakamkannya mbah Djoego dan puncaknya pada tanggal 12 Suro (Muharam) setiap tahunnya. Yaitu untuk memperingati wafatnya Raden Mas Imam Soedjono, dengan mengadakan tahlil akbar.

Setiap pengunjung atau peziarah umumnya memiliki motivasi yang beragam ketika datang kesini. Bagi wisatawan biasa, mungkin hanya sekedar memenuhi rasa penasaran dan menikmati kesegaran udara dan suasana gunung kawi. Sedangkan mereka yang benar-benar sebagai peziarah, bisa melakukan ritual religi sesuai dengan keyakinannya.

Mitos Pesugihan Gunung Kawi

Mitos pesugihan gunung kawi berasal dari sebuah pohon, yaitu pohon dewa ndaru (cerme londo) yang tumbuh di samping areal pesarean gunung Kawi. Jika melihat secara fisik, pohon dewa ndaru di tempat ini tidak ada bedanya dengan pohon dewa ndaru pada umumnya. Pohon dewa ndaru sendiri termasuk jenis pohon langka dan diyakini memiliki nilai magis bagi sebagian orang. Bagi kalangan Tionghoa pohon dewa ndaru dinamakan shian tho atau pohon dewa.

Salah satu pohon dewa ndaru di pesarean Gunung Kawi memang nampak spesial dalam perlakuan, disekilingnya diberi pagar untuk melindungi pohon tersebut, meskipun ranting dan daunnya masih menjulur keluar. Biasanya banyak orang berkerumun di bawah pohon dewa ndaru, sambil berharap bisa kejatuhan buah atau daunnya. Ketika kejatuhan buah atau daun dewa ndaru, dengan segera di bungkus dengan uang kertas dan disimpan. Kemudian untuk menebus buah dewa ndaru tersebut, mesti membeli/menyediakan sesaji atau melepaskan kambing kendit di hutan. Menurut mitos yang berkembang, siapapun yang kejatuhan buah atau daun pohon dewa ndaru akan memperoleh keberhasilan atau keberuntungan, bahkan kekayaan yang berlimpah.

Semua hal berkaitan mitos pesugihan gunung Kawi memang kembali kepada keyakinan masing-masing pengunjung atau peziarah, sedangkan menurut pihak pengelola tidak membenarkan tindakan seperti hal tersebut diatas.

Ritual Religi

Secara khusus pengelola pesarean Gunung Kawi sudah menyiapkan waktu untuk keperluan ritual religi, yaitu berupa jadwal selamatan. Ritual selamatan diadakan setiap hari dalam 3 waktu, yaitu pagi, siang dan malam. Peziarah juga tidak perlu direpotkan dengan uborampe selamatan, karena sudah disediakan secara lengkap. Tinggal memilih sesuai kebutuhan dengan tarif yang sudah ditentukan. Jika melihat daftar harga untuk keperluan selamatan, harga dipatok mulai puluhan ribu hingga puluhan juta, jadi kembali sesuai dengan keperluan dan kebutuhan peziarah.

Tempat-Tempat yang Bisa Dikunjungi

 

Selain pesarean yang menjadi tujuan utama peziarah, ada beberapa tempat lain yang bisa di kunjungi di sekitar lokasi pesarean, diantaranya:

1.Rumah Padepokan Raden Mas Imam Soedjono

2.Tempat dua buah guci peninggalan mbah Djoego

3.Pemandian Sumber Manggis

4.Pemandian sumber Urip

Sedangkan untuk tempat ibadah diantaranya terdapat,

1.Masjid Al Mukharommah, Masjid ini terletak di sebelah kiri makam.
2.Masjid Agung Imam Soedjono, Masjid ini terletak 500 meter sebelum pesarean.
3.Tempat Peribadatan Dewi Kwan Im dan Ciamsi, yang berada di depan gapura pesarean.

Kraton Gunung Kawi

Kraton Gunung Kawi berada di Desa Balesari Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang. Lokasinya juga terletak di kaki Gunung Kawi, dari pesarean mbah Djoego sekitar 7 km, melintasi kawasn hutan, tetapi bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua ataupun empat. Menurut info sejarah Kraton Gunung Kawi pada mulanya dibangun oleh Mpu Sindok.

Sekedar mengingatkan

Saya sendiri sudah beberapa kali ke pesarean Gunung Kawi, meskipun hanya sebatas berwisata atau mengantar kawan yang penasaran dengan kemasyhuran Pesarean Gunung Kawi. Tips bagi anda yang berkunjung ketempat ini, terutama hanya sekedar untuk berwisata, sebaiknya langsung menuju parkiran paling atas, dari sini cukup berjalan kaki sekitar 50 meter sudah sampai lokasi. Karena 1 km sebelum pesarean, biasanya sudah di arahkan ketempat parkir yang bertebaran di sekitar lokasi. Sebelum masuk pesarean banyak guide yang menawarkan diri untuk mendampingi pengunjung, jika tidak ada keperluan untuk ritual religi ada baiknya ditolak dengan halus, jadi anda cukup berjalan menikmati suasana dilokasi. Kalaupun ada keperluan untuk hal tersebut, lebih baik langsung menghubungi juru kunci yang sudah ditunjuk atau pihak pengelola diloket pendaftaran yang sudah tersedia, lokasinya di depan pintu masuk pesarean. Semoga dihindarkan dari mengkultus individukan seseorang dan mempercayai mitos-mitos yang tidak [email protected] [Jef]

0Shares