Jum. Agu 23rd, 2019

XTREMPOINT

Detik-Detik Yang Berarti

Gugatan PMH Kivlan Pada Wiranto Mengungkap Kejadian Yang Tertutup

3 min read

Tonin Tachta Singarimbun SH/dok. Pribadi

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

XTREMPOINT.COM – Tonin Tachta Singarimbun SH, kuasa hukum Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen resmi melayangkan gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) kepada Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto.

Gugatan itu dilyangkan pada 5 Agustus 2019 lalu, dengan memuat materi kejadian tahun 1998 tentang pembentukan Pasukan Keamanan (Pam) Swakarsa dan juga kerusuhan Mei 98.

“Tergugat pada tanggal 14 Mei 1998 ada melarang Pimpinan Kostrad untuk menggerakkan pasukan TNI, sementara tergugat (Wiranto) pergi ke Malang, dan memerintahkan pasukan TNI keluar atau tidak boleh mengamankan Jakarta dan tanggal 14 Mei 1998 adalah sebagai puncak kekacauan,”terang Tonin, dalam keterangan tertulisnya pada xtrempoint.com, Senin (12/8)

Sementara, Pam Swakarsa merupakan pasukan sipil yang dipersenjatai senjata tajam, ia dibentuk oleh elit militer di jamannya. Wiranto yang saat itu menjabat sebagai Panglima Abri (Pangab) disebut-sebut ikut terlibat membentuk pasukan sipil itu. Tujuannya, adalah untuk menghalau aksi mahasiswa di gedung parleman saat para anggota MPR menggelar Sidang Istimewa (SI) 1998.

Adapun demikian, Wiranto menampik telibat dalam pembentukan Pam Swakarsa. Dalam karya tulisnya yang berjudul “Bersaksi Di Tengah Badai” Wiranto tidak mengakui adanya pasukan sipil yang disebut Pam Swakarsa itu.

Beberapa pentolan Pam Swakarsa meradang dengan pernyatan Wiranto, Mereka juga mendesak Wiranto merevisi tulisannya dalam buku “Bersaksi Di tengah Badai”, yang menafikkan sekaligus menyakiti hati mereka lantaran tidak mengakui adanya pamswakarsa.

Menurut para mantan anggota Pam Swakarsa ini, Pam Swakarsa dibentuk sebagai bagian dari Operasi Mantap yang digelar TNI menjelang Sidang Istimewa, dengan Mayjen Kivlan Zen dan Brigjen Adityawarman sebagai perwira yang mengkoordinir di lapangan, [Kompas 29 Juni 2004].

Majelis Dakwah Islamiah, sebuah forum pengajian yang dibina Golkar, menurunkan 600 anggota dengan tugas memblokir Tugu Proklamasi yang sedianya menjadi ajang digelarnya parlemen jalanan oleh mahasiswa dan kelompok penentang SI MPR.

Kelompok penentang saat itu diidentikan pada tokoh Megawati Soekarno Putri dan konco-konconya.

Pam Swakarsa Ada juga berasal dari kelompok dari Menteng, Kalipasir, dan Gondangdia. Dengan kekuatan 200 orang, dan bersama kelompok lain, mereka bertugas menjaga Taman Ismail Marzuki.

Kelompok yang besar digerakkan oleh Faisal Biki, adik kandung almarhum Amir Biki, tokoh peristiwa Tanjung Priok. Bersama kelompok Forum Umat Islam Penegak Keadilan dan Konstitusi (Furkon) yang didirikan Komarudin Rahmat, Daud Poliraja, dan Furqon.

Faisal sendiri mengaku, dananya antara lain dikucurkan oleh Menhankam Pangab Jenderal Wiranto dan Wakil Ketua DPR/MPR Abdul Gafur. Pasukan yang dirangkul Furkon berasal dari berbagai daerah. Jakarta, misalnya, banyak disumbang pasukan dari wilayah Tanah Abang, Tanjung Priok, dan Kwitang. Dari luar daerah, kebanyakan dari Serang, Rangkasbitung, Lebak dan Pandeglang. Ada pula yang datang dari Yogyakarta, seperti diakui Ketua Tarbiyah Islamiah Yogyakarta, Djalaludin Syukur. [Majalah Tempo 30 November 1998].

Setiawan Jodi Ikut Biayai Pam Swakarsa

Tonin Tachta Singarimbun menyebut dalam materi gugatannya, untuk menjalankan misi pergerakan Pam Swakarsa, dibutuhkan anggaran dana. Untuk itu Kivlan Zen diperintahkan untuk mengambil uang pada pengusaha Setiawan Jodi.

“Maka tergugat menelepon Setiawan Djodi guna menyediakan dana sebesar Rp. 400.000.000,- (empat ratus juta rupiah) dan memerintahkan penggugat untuk mengabil uang tersebut pada Setiawan Djodi,”ungkap Tonin.

Duit Rp. 400 Juta ludes, Proyek Pam Swakarsa menurut Tonin menjadi tak terkendali, pasukan berjumlah 30 ribu orang tersebut akhirnya di ambil alih oleh Kivlan Zen dengan pucuk komando Wiranto dan Jhony Lumintang sebagai Asisten Operasi.

Tugas pokok Kivlan adalah menjaga Sidang Istimewa berjalan lancar tanpa di rusuhi aksi mahaiswa. Pam Swakarsa dibawah komando Kivlan berhasil pukul mundur mahasiswa hingga SI (1998) selesai digelar.

Dibawah arahan Kivlan, Pam Swakarsa juga dapat memukul mundur pergerakan para penyerang di Mapolda Metro Jaya, walaupun harus menanggung korban tewas dari pihak Pam Swakarsa.

“Satu orang tewas di Jalan Kasablanka Raya, Jakarta Selatan ada 3 orang tewas, di Cawang, Jakarta Timur, dan Ada 2 (dua) orang yang tewas di tempat lainnya,”beber Tonin.

Untuk membiayai Pam Swakarsa, Kivlan mengklaim mengeluarkan biaya Rp. 8 miliar yang ia usahakan dengan jalan pontang panting.

“Biaya – biaya tersebut seharusnya ditanggung oleh Wiranro,”klaim Kivlan Zen dalam gugatan itu.

Melaui kuasa hukumnya, Kivlan meminta hakim Menghukum tergugat atau Wiranto yang memberikan penugasan Pam Swakarsa untuk membayar seluruh biaya dan kerugian Kivlan.@ [Rep].


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Pilihan Pembaca