Didakwa memperdaganggkan Komodo, Kuasa Hukum Terdakwa Klarifikasi Perkara Hingga Barang Bukti

Didakwa memperdaganggkan Komodo, Kuasa Hukum Terdakwa Klarifikasi Perkara Hingga Barang Bukti

04/07/2019 0 By Redaktur: Junaedi S
Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

XTREMPOINT.COM – Sidang pidana kasus perdagangan satwa langka (Komodo) di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, akhirnya memasuki tahap keterangan dua saksi Mahkota yang dihadirkan JPU Diah dari Kejati Jawa Timur, Selasa (3/06/2019).

Menurut saksi Vicky Subun yang turut terseret jadi terdakwa dalam kasus ini menjelaskan. Bahwa kasus ini diawali perkenalannya dengan terdakwa Imam, lewat medsos (Facebook).

Kemudian dari perkenalan itu berlanjut hingga terjadi kesepakatan antara dia dan terdakwa. Yang mana terdakwa berjanji pada saksi, menyanggupi untuk menjual komodo milik saksi.

Awal pembicaran dia dan terdakwa, menurut saksi bukan tentang jual beli komodo melainkan burung (Kaka Tua dan Nuri). Namun, setelah terjadi deal-dealan antara terdakwa dan pembeli. Baru dirinya mengetahui, yang diminta terdakwa adalah komodo.

Menurut saksi, ia tidak mengetahui komodo-komodo tersebut dijual terdakwa kemana dan kesiapa orangnya.

Ngaku saksi, dari hasil penjualan tersebut terdakwa sudah mendapatkan dua kali pengiriman uang darinya. Pertama senilai Rp. 70 juta ditransfer kerening terdakwa. Dan kedua dikasih cash senilai Rp.20 juta.

“Pertama saya transfer kereningnya Rp.70 juta dan kedua Rp. 20 juta.Sebab harganya berfariatif tergantung kecil besarnya komodo,”jawab Vicky Subun kepada Ahmad Firzah Ketua Mejelis Hakim.

Baca:  Dua Jambret Yang Masih Berstatus Pelajar Ini Dijatuhi Hukuman 2, 8 Tahun Penjara

Lebih lanjut Pria keturan chines ini menjelaskan, dirinya mendapatkan Satwa-satwa tersebut dari seseorang yang berburu komodo.

“Satu kali pengiriman kadang satu ekor kadang 4 ekor. Dan setiap pengiriman saya masukan kedalam pipa paralon. Tergantung ukuran komodonya. Setiap pengiriman pasti ditanya orang. ini apa? Saya jawab, ular. Kalau ular mereka pasti takut pegang. Saya usaha ini dari tahun 2016. Dan perkirakan sampai detik ini, mungkin sudah 40 ekor komodo yang dijual saya,”Sambung saksi Vicky Subun.

Lain Vicky Subun lainpula saksi Risky alias Oci kepada Ahmad Firzah.

Risky yang juga turut menjadi terdakwa ke-tiga dalam kasus ini menuturkan bahwa dirinya tidak tau menau tentang bisnis antara Terdakwa dan Vicky Subun.

Dia mengaku hanya mempertemukan Terdakwa dan Vicky Subun. Kemudian setelah itu, saksi tidak mengetahui kelanjutan transaksi keduanya.

Spengetahuan Risky dia diberitahu oleh Vicky dan Terdakwa, bahwa mereka bertransaksi jual beli burung kaka tua dan kera, bukan komodo. Itupun diketahui setelah keduanya ditangkap Polisi.

“Setau saya mereka Bisnis burung kaka tua dan kera, bukan komodo. Setelah ditangkap dulu baru saya tau kalau masalah komodo,”ucapnya.

Dikesempatan yang sama, Kuasa Hukum Imam, Rully Titahelu SH menjelaskan. Bahwa kasus yang menimpa kliennya (Imam) itu atas ulah Vicky Subun yang mengait-ngaitkan dan mengaku pada Polisi bahwa klienya memperdangkan komodo miliknya.

Baca:  PN Surabaya Undang Ratusan Anak Yatim Untuk Berbuka Bersama

Sebab kata dia, dalam perkara ini Vicky mencakut nama klienya. Kemudian Polisi menangkap Imam. Karena dituduh memperdagangkan Hewan atau Satwa langka (komodo).

Benerapa hal itu sudah pernah dijelaskan kliennya dihadapan Penyidik Kepolisian. Akan tetapi, pengakuannya itu menurut Rully tidak digubris.

Lebih lanjut Rully menjelaskan, Satwa komodo yang dijadikan barang bukti (BB) sampai detik ini juga tidak bisa dibuktikan dan dihadirkan di Persidangan.

“Mulai dari proses penyelidikan di Kepolisian hingga peyidikan di Kejaksaan sampai tahap persidangan di PN-Surabaya ini tadi, BB Komodo yang menjadi akar masalah. Tidak pernah ditunjukan secara wujud oleh Jaksa Penuntut Umum(JPU),”ungkapnya.

Sehingga kata Pria asal Maluku Tengah ini, Pasal 40 UU No.19 Tahun 1990 yang didakwakan Jaksa Diah pada kliennya dinilai tidak relevan bahkan secara subyek hukum. Dia menilai, Tidak dapat dibenarkan karena cacat yuridis.

“JPU tidak bisa membuktikan kapan transaksi itu terjadi, dimana, tanggal berapa, dan atas dasar apa, serta siapa orang yang memerintahkan terdakwa untuk melakukan itu”kata Rully.

Dia menambahkan,sejak awal kliennya (Imam) mengenal kedua saksi,yakni Vicky Subun dan Risky alias Oci. Bukan bicara masalah jual beli Komodo akan tetapi jual beli burung.

Baca:  Pengacara Maupun Pihak Berperkara Dilarang Menemui Hakim Diruangan

Pernyataan Imam itu dibenarkan oleh Vicky dan Risky. Dalam keterangan-nya, kedua saksi ini menyatakan bahwa awal perkenalan mereka adalah terkait jual beli burung.

Selain itu tambah dia, dalam kasus ini bukan saja Vicky dan Risky tapi ada otak penyambung, yakni Rizal.

“Uang Rp.90.juta yang dikirim dua kali oleh Vicky ke Imam,itu hasil jual beli burung. Jadi mau kami selaku Kuasa Hukum Imam, bebas demi hukum. Tapi sebelum pledoi kami akan meminta Majelis Hakim untuk menghadirkan saksi verbalisan (penyidik). Dan akan kami tanyakan. Apa dasar penangkapan, penggeladaan hingga alasan apa sampai Imam dijadikan tersangka. Setelah itu kami akan kupas semua lewat Pledoi,”tandas Rully [email protected] [Rb].

Shares