Dianggap Meneror, Dua Direksi CV SGBP Jadi Pesakitan

Dianggap Meneror, Dua Direksi CV SGBP Jadi Pesakitan

16/09/2019 0 By Redaktur: Junaedi S
Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

XTREMPOINT.COM – Dandy Melanda dan Girdani Gania yang merupakan direksi CV Surya Gemilang Bahagia Persada (SGBP) dijadikan pesakitan di Pengadilan Negeri Surabaya, Selasa (16/9).

Mereka berdua dituduh melakukan pemalsuan tanda tangan Johny Widjaja (Alm), pemilik lahan seluas kurang lebih 2 ha, di Kecamatan Burneh, Bangkalan, Madura.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sabetania dan Bunari yang menangani perkara ini menjerat terdakwa dengan dakwaan melanggar pasal 263 ayat (1) jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP tentang pemalsuan.

Mereka juga dituduh melakukan gangguan atau teror kepada keluarga Johny Wijaya dengan menagih uang sebesar Rp. 3,5 Miliar, hasil penjualan property.

Baca:  Keluarga Johny Widjaya Kompak Jadi Saksi Kasus Pemalsuan

“Keluarga Johny Widjaja merasa dirugikan dengan mengalami gangguan dan teror terkait dengan penagihan uang senilai kurang lebih Rp. 3,5 Miliar.” Kata JPU Sabetania, di ruang sidang PN Surabaya.

Usai mendengarkan dakwaan Jaksa, terdakwa Dandy menyatakan keberatan dan menganggap surat dakwaan JPU tidak sesuai dengan peristiwa yang sebenarnya.

“Saya merasa tidak pernah memalsukan tanda tangan, Bahwa saya juga tidak pernah memfitnah atau menteror “kata Dandy.

Ketua majelis hakim Dede Suryaman memberikan kesempatan kepada terdakwa untuk menyampaikan hal itu nanti, setelah pemeriksaan sidang sudah sampai pada tahap pemeriksaan pokok perkara.

Asal Mula

Antara Dandy, Girdani dan Johny sejatinya merupakan kongsi dalam pembangunan proyek perumahan Metro Villa Residence di Jalan Pemuda Kaffa Raya Junok Kecamatan Burneh Bangkalan Madura.

Baca:  Keluarga Johny Widjaya Kompak Jadi Saksi Kasus Pemalsuan

Perumahan itu dibangun memakai lahan 2 hektar milik Johny, sedangkan proses pembangunannya di serahkan pada CV. SGBP milik Dandy dan Girdani.

Dikutip dari surat dakwaan Jaksa, Dandy dan Girdani, selaku Direktur Utama CV. SGBP dan ProjectManager dalam usaha pembangunan perumahan pada 10 September 2015 mengajukan draft surat penunjukan kepada mendiang Johny agar dapat segera megerjakan proyek.

Akan tetapi, draft surat penunjukan sebagai kontraktor pembantu itu tidak ditanda tangani oleh Johny. Alasannya, tiap bulan mereka berdua telah mendapat gaji dari Johny.

Setelah Johny meninggal dunia, Surat itu diklaim digunakan kedua terdakwa untuk menagih komisi hasil penjualan rumah kepada anak almarhum, yaitu Ardian Hartanto Wijaya.

Baca:  Keluarga Johny Widjaya Kompak Jadi Saksi Kasus Pemalsuan

Permintaan kedua terdakwa itu ditolak oleh Ardian, karena almarhum ayahnya setahu dia tidak pernah memberikan tanda tangan pada surat itu.

Apa yang dilakukan kedua terdakwa yang meminta bagian hasil penjualan rumah itu dinilainya sebagai perbuatan teror, walaupun terdakwa belum sempat menerima sepeserpun uang dari dia.

Dalam perkara ini, Saksi Korban Ardian tidak mengalami kerugiaan riil atau materiil, namun ia merasa diteror oleh kedua [email protected] [Rep]

Shares