Apakah Praktik Perdukunan Dapat Disanksi Hukuman

Apakah Praktik Perdukunan Dapat Disanksi Hukuman

15/06/2019 0 By xtrempoint
Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

XTREMPOINT.COM – Budaya mayoritas masyarakat Indonesia yang kental dengan dunia mistik dan gaib membuat sebagian orang memanfaatkan keadaan itu dengan membuka praktik-praktik perdukunan. Namun tidak jarang, tindakan tersebut malah mengantar sipelaku ke balik jeruji besi.

Lantas apakah praktik pelaku perdukunan itu dapat disanksi dengan hukum yang berlaku?

Untuk pelaku perdukunan abal-abal. Polisi biasanya menjerat para pelaku dengan pasal Penipuan dan penggelapan yakni 372 dan 378 KUHP. Adapun ancaman hukumannya ialah 4 tahun penjara.

Sebagai contoh ialah Basuki (56) seorang kakek asal Jati Rejo, Kabupaten Karang Anyar, Jawa Tengah. Pensiunan PNS itu mengaku dapat menyembuhkan penyakit dengan sarana gaib, atau melalui sarana produk buatannya sendiri semacam minyak atau lainnya.

Modusnya, Basuki menjanjikan harapan atau janji-janji semu (Palsu) bahwa produk barang buatannya itu mampu menyembuhkan atau mengatasi masalah si pasien atau pembeli produknya yang ia klaim memiliki kekuatan magis.

Atas ulahnya tersebut membuat korban yang terperdaya harus mengeluarkan uang ratusan ribu bahkan jutaan rupiah untuk membayar atau memahari. Basuki akhirnya ditangkap polisi dan mendekam di penjara.

Iklan

Era teknologi atau jaman now membuat pelaku dukun palsu mudah melakukan aksinya.Modus dukun abal-abal biasanya memasarkan produknya di media sosial. Mereka mayoritas tidak memiliki keahlian apapun. Satu-satunya keahlian mereka ialah membuat sebuah postingan memasarkan produk yang isinya penuh harapan dan janji semu, dengan bumbu-bumbu kekuatan magis.

Parahnya lagi, mereka mendeklarasikan memiliki kekuatan gaib yang tanpa disadari mereka sebenarnya telah melakukan penipuan berkedok dewa penolong. Tujuan mereka tidak lain adalah mencari keuntungan pribadi.

Pelaku dukun palsu yang memasarkan produk hoaxnya di medsos ini bahkan berpotensi diancam dengan UU ITE.

Berbedahalnya dengan para pelaku sepiritual jaman dulu. Mereka tidak pernah mengklaim memiliki kekuatan magis atau barang-barang tertentu yang dapat dimaharkan. Mereka cenderung dipercaya oleh masyarakat karena telah memiliki bukti dan melihat dengan mata kepala mereka bahwa orang tersebut memang memiliki kekuatan gaib.

Masyarakat secara sukarela mendatanginya, tanpa ia harus memasarkan keahliannya.

Seoarang spiritualis di Jakarta Dewi Sundari lebih memahami akan resiko hukum yang selalu mengancamnya dalam menjalankan profesinya sehari-hari. Untuk itu dia selalu memaparkan diawal pada pasiennya. Bahwa apa yang ia lakukan tidak dijamin berhasil 100 persen.

Untuk mengantisipasi ancaman hukum, ia bahkan membuat kesepakatan secara tertulis dengan si pasien dengan pembubuhan materai.

“Isinya itu kurang lebih nanti kalau tidak berhasil dalam jangka waktu tertentu, maharnya saya kembalikan. Ini khusus untuk mereka yang hanya terima bersih,” kata Dewi yang sehari-hari mengaku mendalami ilmu pesugihan berbasis prinsip kejawen. “Kalau memang dari awal si paranormal ini menjanjikan pasti berhasil ya wajar dia dituntut, tapi kalau dari awal diterangkan keadaannya, diterangkan segala kondisi kemungkinannya, tentunya hal itu tidak terjadi.”kata Dewi, dilansir Voice Indonesia.

0Shares