Aniaya Orang, Pedagang Nasgor Ini Minta Vonis Ringan

Aniaya Orang, Pedagang Nasgor Ini Minta Vonis Ringan

22/08/2019 0 By Redaktur: Junaedi S
Share:

XTREMPOINT.COM – Kesal uang jualan suka hilang, pedagang asongan nasi goreng asal Demak, melakukan penganiayaan. Dia Berharap Majelis Hakim menjatuhkan putusan ringan.

Sidang pidana kasus penganiayaan atas nama terdakwa Purwanto Binarto (33) asal Gadukan Demak Surabaya,akhirnya memasuki tahap pemeriksaan saksi korban,yakni Mahendro.

Pria beranak tiga ini dia dituduh melakukan pemukulan terhadap Mahendro dengan menggunakan Bambu sepanjang 1-meter lebih,sebanyak empat kali dibagian tangan,kepala dan badan.

Pemukulan itu yang mana terdakwa kesal dengan uang jualan yang suka hilang,sebanyak Rp 100 hingga Rp 200 ribu dalam satu minggu berturut-turut.

Hingga hal itu dilampiaskan terdakwa terhadap korban. Dalam keterangan nya kata korban bahwa kasus itu berawal yang mana pada tanggal 28 April malam di Jln Krembangan depan Indomaret.

“Malam itu saya melintas disitu karena bertepatan dengan kehilangan Handphone samsung milik seorang anak. Pas umpatan dia, maling-maling saya yang ada disitu akhirnya jadi amukan masa,”ungkap korban.

Menurut saksi, penganiyaan itu dilakukan terdakwa bersama sejumlah warga lainnya.

“Memang banyak yang pukul saya.Tapi terdakwa yang pukul saya terakhir pakai bambu, sebanyak 4-(empat) kali dibagian tangan, kepala dan badan. Bahkan atas pemukulan itu, tangan, kepala dan badan saya luka,”tuturnya.

Sedangkan menurut terdakwa, ia memukul korban karena kesal uang jualannya suka hilang. Bahkan dilokasi tersebut warga banyak mengeluh kehilangan uang, Handphone hingga sepeda motor.

“Karena uang saya juga suka hilang karena dengar ada maling-maling lalu saya juga ikut kejar dan pukul. Memang saya orang terakhir yang pukul dia pakai bambu Pak hakim,”ngaku terdakwa.

Kata dia, usai memukul korban,beberapa hari kemudian baru diketahui bahwa pemukulan tersebut harus berbuntut panjang, karena dia dilaporkan dengan tuduhan melakukan penganiayaan atas korban.

Selain itu lanjut pedangang asongan nasi goreng ini, setelah dipanggil Polisi untuk diperiksa. Baru dirinya mengetahui ada sejumlah luka ditangan,kepala dan badan korban.

Lalu diapun diminta Polisi untuk membiayai biaya pengobatan korban senilai Rp 4 juta. Namun ditolak olehnya, karena tidak sanggup membayar uang sebanyak itu.

Akhirnya diapun bisa menyanggupi membayar biaya pengobatan korban Rp 1,500 juta. Bahkan korbanpun sudah mencabut laporannya sebagaimana surat pernyataan perdamaian yang dibuat korban dihadapan penyidik.

Atas perbuatan itulah JPU Fadil SH dari Kejari Tanjung Perak mendakwakan terdakwa dengan Pasal 351 KUHP tentang [email protected] [Rep/JN].


Share: