Jum. Agu 23rd, 2019

XTREMPOINT

Detik-Detik Yang Berarti

Agnostik Itu Terlalu Sains Atau Tidak Tahu?

2 min read
Oleh: Pradipta J

Ilustrasi logo Agnostik

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Istilah Agnostik (Agnostic) memiliki pengartian berbeda dalam sudut pandang pemikiran, istilah Agnostik dicetuskan pakar biologi asal Inggris, Thomas Henry Huxley (1986).

Secara sederhana, Huxley mengartikan Agnostik adalah “sesuatu hal yang tidak seharusnya dipercayai atau mengaku mengetahui sesuatu hal tanpa dasar ilmiah (Sains).

Dalam segi kepercayaan, Agnostik berbeda dengan Ateis. Pola pikir Agnostik cenderung tidak bisa membantah, menolak atau mempercayai adanya Tuhan. Sebab ia belum menemukan dasar ilmiah secara sains untuk mempercayai atau menolak tuhan.

Agnostik tidak bisa diartikan secara liar bahwa itu merupakan “suatu pemikiran yang meyakini konsep ketuhanan tapi tidak percaya agama.”

Para Agnostik pada umumnya telah memeluk agama, namun ia masih memiliki dilema dalam kepercayaanya itu. “Menolak atau mempercayai,”.

Agnostisisme adalah kepercayaan atau prinsip dari agnostik mengenai eksistensi dari segala hal yang diluar atau dibalik dari fenomena material atau pengetahuan tentang Tuhan, dan bukanlah suatu agama.

Sementara, ruang lingkup sains terbatas pada berbagai hal yang dapat dipahami oleh indera (penglihatan, sentuhan, pendengaran, rabaan & pengecapan) atau dapat dibilang sains itu pengetahuan yang diperoleh melalui pembelajaran dan pembuktian melalui sarana Indra.

Pengurus Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand yang juga merupakan Dosen Senior Monash Law School, Nadhirsyah Hosen mengartikan bahwa “Agnostik itu tidak dapat menentukan apakah tuhan itu memang ada atau tidak, bisa jadi mereka percaya adanya tuhan (tdk spt orang ateis) tapi akal mereka tidak sampai untuk menyimpulkan tuhan itu ada”.

Sementara, pendapat ekstrim dilontarkan oleh Seniman Sujiwo Tejo. Dia tidak mempercayai masih terdapat orang yang berpikiran Agnostik juga Ateis.

Sujiwo Tejo menyebut orang tersebut ialah orang yang “tidak tahu” dalam artian karena ketiadak tahuannya itu maka ia berpikiran agnostik bahkan ateis.


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Pilihan Pembaca